Salam Redaksi,





Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat luas dan banyak menyimpan kekayaan alam. Dengan luas lautan hampir 70% dari total keseluruhan luas negara Indonesia, Sebesar 14 persen dari terumbu karang dunia ada di Indonesia. Diperkirakan lebih dari 2.500 jenis ikan dan 500 jenis karang hidup di dalamnya, tetapi belum banyak dipahami betul nilainya bagi bangsa Indonesia.


Terumbu karang merupakan pusat keanekaragaman hayati laut terkaya di dunia yang memiliki struktur alami serta mempunyai nilai estetika yang tiada taranya. Selain sebagai lingkungan yang alami, terumbu karang juga mempunyai banyak manfaat bagi manusia dalam berbagai aspek ekonomi, sosial dan budaya
Kekayaan spesies terumbu karang, ikan, dan biota laut lainnya tampak berlimpah di Perairan Alor, Nusa Tenggara Timur, pada Mei 2007. Segitiga Terumbu Karang yang disebut juga sebagai “Amazon of the Seas” mencakup wilayah perairan tengah dan timur Indonesia, Timor Leste, Filipina, Sabah-Malaysia, Papua Niugini, dan Kepulauan Salomon diperkirakan dihuni sekitar 3.000 spesies ikan.



Sayang, ternyata banyak terumbu karang yang rusak. Menurut data dari Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang di Indonesia atau Coral Reef Rehabilitation Management Program Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (COREMAP LIPI), hanya 6,83 persen dari 85.707 km2 terumbu karang yang ada di Indonesia berpredikat sangat baik (excellent). Terumbu karang yang sangat baik itu tersebar di 556 lokasi. Sungguh sangat disayangkan sekali, kekayaan alam yang sangat berlimpah di negri ini, tidak kita jaga dengan baik, dan kita lestarikan keberadaannya.


Sementara, dengan memiliki lebih dari 2500 jenis ikan yang hidup dan berkembang biak di perariran Indonesia, sangat disayangkan sekali belum dapt dimanfaatkan secara maksimal oleh rakyat Indonesia, nelayan Indonesia belum dapat hidup makmur, padahal negara kita terkeal dengan kekayaan lautnya. Pemerintah terkesan seperti tutup mata dan tidak terlalu menanggapi permasalahan mengenai banyaknya nelayan asing, yang secara sengaja menggunakan bendera Indonesia di kapal mereka, lalu bebas menangkap ikan di daerah laut Indonesia. Hal tersebut menunjukan lemahnya hukum dan kurangnya ketegasan dan tindakan pengamanan perairan Indonesia dari pemerintah.


Oleh karena lemahnya perlindungan pemerintah terhadap laut Indonesia, maka menyebabkan banyak kerusakan kekayaan laut Indonesia, seperti kerusakan terumbu karang akibat penggunaan pukat harimau, penggunaan bom ikan, dan banyak hal lainnya, sehingga banyak kerusakan yang diakibatkan oleh hal-hal tersebut.



Kekayaan laut Indonesia sangat memiliki potensi yang tinggi. Baik dari segi perdagangan hasil laut, maupun dari segi pariwisata. Dengan keaneka ragaman dan berlimpahnya kekayaan laut negri ini, Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor ikan, udang dan berbagai jenis hewan laut lainnya untuk dikirim ke luar negeri utuk diolah sebagai bahan makanan, ikan-ikan Indonesia sudah banyak di kirim ke jepang, china, korea dan beberapa negara lain di benua asia dan bahkan sudah menembus benua amerika. Dari hal tersebut, kita dapat brpendapat bahwa kekayaan laut Indonesia tidak hanya indah, tetapi memiliki kualitas internasional, sehingga banyak negara asing yang menyukai mutu dari ikan-ikan dari laut Indonesia.


Dari segi pariwisata, Indonesia banyak memiiki tempat-tempat wisata laut yang menarik, kita memiiki kepulauan seribu, taman laut bunaken, keindahan laut pulau Lombok, bali, dan banyak tempat wisata laut menarik lainnya. Apabila kita dapat memanfaatkannya dengan baik untu kepentingan negara ini, dunia akan menyadari bahwa Indonesia adalah suatu negara yang memiiki keindahan yang memukau, dibalik isu-isu negative tentang Indonesia di dinua iternasional, hal ini dapat menjadi daya tarik tersebdiri bagi para wisatawan asing maupun lokal, untuk berkunjung ke Indonesia.


Sangat disayangkan sekali, anugerah dan karunia yang dimiliki oleh Indonesia akan kekayaan laut kita, dengan berbagai macam keindahan terumbu karang, keanekaragaman ikan laut dan berbagai macam keindahan biota laut lainnya rusak begitu saja, oleh karena ulah dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab, yang hanya mementingkan kepentingan pribadinya saja dan mengabaikan kelestarian alam laut Indonesia
Dengan ini, saya sebagai orang yang peduli akan keindahan laut Indonesia, menghimbau dan mengajak anda semua, untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan kekayaan laut Indonesia.




Indonesia adalah negara yang sangat kaya dan memiliki berbagai macam kekayaan alam yang sangat berlimpah. Maka, apabila anda benar-benar seseorang yang mencintai tanah air ini, mari kita bersama-sama memberikan kontribusi untuk tanah air kita, salah satunya dengan cara menjaga kekayaan laut Indonesia.

Semoga dengan adanya blog ini, kita semua dapat lebih menyadari keindahan dan kekayaan laut yang kita miliki..semoga anda semua dapat menikmati blog ini, dah silahkan nerkomentar, saling memberikan kritik dan saran yang membangun, semoga laut Indonesia dapat lebih terjaga kelestarian dan keindahannya.

LAUT INDONESIA MEMBUTUHKAN PERHATIAN DAN BANTUAN KITA…!!!
MARI KITA JAGA DAN LESTARIKAN KEKAYAAN LAUT INDONESIA..!!!
KITA PASTI BISAA..!!!KITA HARUS BISA..!!

Kerusakah Laut indonesia




Indonesia sebagai negara maritim yang sedang bermasalah dengan kerusakan hutan dan lingkungan pesisir serta laut, rasanya tidak pantas hanya puas karena menjadi tuan rumah konferensi perubahan iklim dan terumbu karang dunia. Sementara masalah mendasar menjaga lingkungan laut dari pencemaran limbah tambang dan beracun di perairan sendiri, masih terabaikan.


Sedikitnya sampai saat ini 340.000 ton limbah tambang (tailing) per hari dibuang dan mencemari laut dari dua perusahaan asing terbesar yang beroperasi di wilayah Papua dan Nusa Tenggara Barat. Selain itu laut juga tercemar minyak oli kapal yang mencapai 80 juta liter per tahun. Persoalan pencemaran laut juga terjadi di Jawa Timur. Di perairan Situbondo misalnya, limbah asam sulfat (H2So4) dengan bebas dibuang ke Selat Madura oleh pabrik pengolahan kepala dan kulit udang (citin). Akibatnya ratusan petani tambak usaha budidaya laut dan hatchery mengalami gagal panen. Demikian pula Kali Surabaya yang bermuara di Selat Madura menjadi tempat menampung limbah dari sedikitnya 105 pabrik. Limbah pabrik mengandung unsur logam berat, seperti merkuri dan timah yang berbahaya bagi mahluk hidup. Pencemaran limbah tentunya berbahaya pula bagi perikanan tangkap dan usaha budidaya pesisir dan laut di 10 kabupaten dan kota di pesisir Selat Madura. Selat dengan potensi ikan 214.097 ton per tahun itu, juga menjadi tempat buangan lumpur Lapindo melalui Kali Porong.. Data hasil uji Laboratorium Penguji Balai Pengembangan Budidaya Air Payau (LPBPBAP), Dinas Perikanan dan Kelautan Jawa Timur menyebutkan, sebanyak 15 parameter diteliti menggunakan beberapa spesifikasi metode. Sembilan parameter diantaranya melebihi ambang batas standar baku mutu air untuk budidaya air payau. Sampling yang diuji berasal dari anak Kali Porong. Sungai Permisan di Desa Permisan, Kecamatan Jabon, Sungai Tuyono dan Sungai Avor Alo di Kecamatan Porong, tanah tambak di desa Permisan dan desa Plumbon serta kolam lele di desa Penatar Sewu, Kecamatan Tanggulangin. Lumpur mengandung unsur amonia (NH3), nitrit (NO2), sulfida (S2), dan klorin (Cl 2) untuk satuan miligram per liter tercatat melampaui ambang batas. Demikian pula unsur besi (Fe), tembaga (Cu), mangan (Me) dan bromida (Br2) melebihi ketentuan standar yang diatur berdasarkan PP No.82 tahun 2001. Bahkan ditemukan plankton jenis prorocentrum sp yang meracuni ikan.


Hasil uji laboratorium bulan Maret lalu, aliran lumpur Lapindo mencemari pula Sungai Ketapang di Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo. Oksigen terlarut, amonia, nitrit, tembaga, klorin dan seng melebihi ambang batas dan menyebabkan gagal panen sejumlah tambak udang yang dialiri Sungai Ketapang.


Sementara itu 85.510 nelayan dan 14.832 petani tambak menggantungkan pendapatannya dari Selat Madura. Kondisi selat seluas 9.500 kilometer persegi itu akan bertambah parah jika limbah tailing sebanyak 2.361 ton per hari jadi dibuang ke laut. Limbah tersebut berasal dari penambangan emas di Hutan Lindung Tumpang Pitu, Banyuwangi, dikhawatirkan akan mencemari pula Selat Bali dan Samudera Indonesia. Pencemaran di perairan Jawa Timur adalah sebuah tamparan. Permasalahan itu seharusnya berani dibeberkan delegasi Jawa Timur di sidang World Ocean Conference (WOC). Sehingga mendapat perhatian dan menjadi isu pencemaran laut lokal, yang mampu menggugah kesadaran dunia international.



Dampak perubahan iklim
Indonesia dijadwalkan menjadi tuan rumah WOC tanggal 11-15 Mei 2009 di Manado, Sulawesi Utara. Forum international itu rencananya akan dihadiri ratusan pakar lingkungan, kelautan dan iklim dunia. Pemanasan global akan menjadi agenda utama. Agenda lainnya adalah membahas kelestarian terumbu karang, Coral Triangle Initiative (CTI) Summit. Seperti diketahui terumbu karang merupakan unsur penting untuk menjaga kemampuan laut menyerap 40 persen karbon dioksida. Pencemaran udara telah meresahkan penduduk dunia karena menaikkan suhu panas bumi. Hal ini berdampak pada penggelembungan molekul air laut dan pencairan glaciers dan bongkah gunung es yang menaikan permukaan laut. Kondisi itu berdampak pada perubahan iklim, meningkatkan frekuensi badai topan, dan banjir sehingga memukul penduduk pesisir. Pengaruh buruk kenaikkan permukaan laut telah menenggelamkan sejumlah pulau di Samudera Pasific dan Samudra Indonesia. Antara lain Pulau Kiribati, Vanuatu, Tuvalu dan Kepulauan Marshall serta Kepulauan Maladewa dan beberapa pulau Indonesia. Di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur sedikitnya 5 pulau tenggelam dalam 10 tahun terakhir ini. Hasil verifikasi Depdagri, Departemen Kelautan dan Perikanan serta Bakorsurtanal menyebutkan, dari 17.504 pulau yang dimiliki Indonesia ternyata jumlahnya menyusut menjadi 17.480 pulau. Berkurangnya jumlah pulau tersebut diduga selain karena pemanasan global dan akibat degradasi lingkungan.


Konservasi Laut
Menghijaukan permukaan bumi, memperbaiki ekosistem laut adalah upaya meredam panas bumi. Pada dasarnya laut mampu mengubah air kotor menjadi nutrient, melenyapkan zat polutan air, mengubah karbon dioksida menjadi makanan dan oksigen. Akan tetapi eksploitasi hasil laut secara berlebihan (overfsihing) menyabotase ekosistem laut. Lingkungan laut menjadi tidak stabil, kemampuan laut memproduksi hasil laut semakin menurun. Untuk memulihkan kondisinya dengan memperbanyak wilayah konservasi laut. Indonesia sangat berkepentingan dengan konservasi laut mengingat posisinya termasuk dalam wilayah triangel coral reef. Lebih dari 18 persen terumbu karang dunia yang menjadi tempat berkembang biaknya ikan tuna, dan ribuan spesies laut lainnya berada di perairan nusantara. Hutan Amazone bawah laut itu, lokasinya terbentang dari utara Kalimantan, Kepulauan di Filipina, Halmahera, Papua Niugini, Kepulauan Solomon, Kepulauan Arafura, Timor Leste, selatan Nusatenggara, Selat Bali hingga selatan Kalimantan dengan luas 75.000 kilometer persegi. Keberadaan kawasan konservasi memang penting, akan tetapi hal itu seharusnya tidak membatasi akses nelayan untuk memanfaatkan sumber daya laut. Konservasi laut umumnya dimanfaatkan untuk wisata bahari. Taman Nasional Laut atau Taman Wisata Laut pada kenyataannya menutup ruang gerak nelayan. Pemanfaatannya untuk wisata bahari telah memutus wilayah tangkap nelayan dan mengesampingkan peran masyarakat pesisir.

Laut Dapat Menyerap Karbon Dioksida (CO2)


Laut Indonesia yang luasnya mencapai 5,8 juta km2 itu, ternyata mampu menyerap sekitar 44 persen dari seluruh jumlah karbon dioksida (CO2) di atmosfer. Demikian penjelasan Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi, di Jakarta, Selasa (31/7).


Pemanasan global itu muncul karena gas CO2 semakin banyak di atmosfer. Kenaikan gas itu disebabkan oleh banyaknya pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara dan bahan bakar organik lainnya. Biasanya, kenaikan gas CO2 itu akan diserap oleh tumbuh-tumbuhan dan laut. Gas CO2 sendiri dibutuhkan oleh Bumi agar suhunya tidak dingin. Namun, bila tumbuh-tumbuhan dan laut tidak mampu menyerap kenaikan gas CO2 ini, maka akan terjadi pemanasan global. Fungsi LautSalah satu fungsi dari laut adalah menyerap CO2. Bagaimana caranya? Di laut, ada sebuah sistem rantai makanan, yang berfungsi sebagai carbon sinks. Awal dari sistem rantai makanan itu adalah fitoplankton (alga) yang membutuhkan karbon dari gas CO2 untuk fotosintesis. Karbon itu mereka serap dari atmosfer.



Dengan karbon itu, plankton tetap bisa hidup. Ia lalu menjadi makanan bagi ikan-ikan. Dan ikan adalah makanan untuk manusia. Nah, dengan kemampuan laut menyerap CO2, terjamin pula kelangsungan kehidupan di laut.Binatang bercangkang atau berkerang juga menggunakan karbon untuk membuat cangkang atau kerang mereka.
Mereka juga menyerap CO2 dari atmosfer. (LAN) Foto: flickr.com Kata sulit:Carbon sinks: tempat untuk menyimpan atau menyerap gas karbon dioksida yang terdapat di atmosfer bumi.Fotosintesis: proses memasak makanan dengan hijau daun melalui cahaya matahariPlankton: organisme laut (tumbuhan dan hewan) yang sangat halus, melayang di dalam air dan merupakan makanan utama ikan.


CARA MEMBUAT TEKS BERJALAN PADA BLOG

Teks Berjalan !! itulah yang sering kita dengar jika seseorang ingin membuat sebuah teks agar bisa bergerak di blognya. Teks Berjalan !! itulah yang sering kita dengar jika seseorang ingin membuat sebuah teks agar bisa bergerak di blognya. Ucapan ini sering disebut dengan Marquee yang merupakan suatu program Html. Marquee atau teks berjalan ini banyak diminati para blogger dan webmaster karena program ini menarik untuk di lihat serta dapat menghemat tempat pada blog kita. Teks berjalan ini bisa kita atur gerakannya, baik dari kiri ke kanan, kanan ke kiri, atas ke bawah maupun bawah ke atas. Selain itu, kita juga bisa memasukkan link ke dalam teks yang bergerak tersebut.

Berikut ini adalah beberapa contoh penggunan marquee pada teks. Adapun tutorial ini sengaja saya posting ketika saya ingin membuat marquee atau teks berjalan pada salah satu blogku yang di baca pada web http://hakimtea.com/. Ternyata cara membuat teks berjalan atau marquee ini tidaklah sulit seperti yang dibayangkan. Kita hanya perlu memasukkan beberapa kode html yang sudah di sediakan kedalam blog pada posisi mana yang ingin dimasukkan marquee.

1. Teks berjalan dari kiri ke kanan.

KIRI ke KANAN

KIRI ke KANAN"

2. Teks berjalan dari kiri ke kanan dan berhenti pada saat mouse ditujukan pada teks.

KIRI ke KANAN dan BERHENTI

KIRI ke KANAN dan BERHENTI

3. Teks bergerak bolak-balik : kiri -> kanan -> kiri.

Bolak Balik

Bolak Balik

4. Teks bergerak dari bawah ke atas.

BAWAH ke ATAS

BAWAH ke ATAS

5. Teks bergerak dari atas ke bawah.

ATAS ke BAWAH
ATAS ke BAWAH

Itulah beberapa contoh teks berjalan atau marquee yang bisa anda masukkan ke dalam blog, tinggal pilih mana yang ingin di masukkan. Apakah ingin teks berjalan dari kiri ke kanan, bolak balik, atas ke bawah maupun bawah keatas. Jika telah mengikuti langkah-langkah diatas dengan benar, coba lihat hasilnya.

Empat Pilar Belajar Drs. Fadrizal Alams

Untuk menghadapi dan menyesuaikan diri dengan tuntutan perkembangan dunia yang sangat cepat, Unesco (Nana Syaodih Sukmadinata, 2005) merumuskan empat pilar belajar, yaitu: belajar mengetahui (learning to know), belajar berkarya (learning to do), belajar hidup bersama (learning to live together), dan belajar berkembang secara utuh (learning to be).

1. Belajar mengetahui (learning to know)
Belajar mengetahui berkenaan dengan perolehan, penguasaan dan pemanfaatan informasi. Dewasa ini terdapat ledakan informasi dan pengetahuan. Hal itu bukan saja disebabkan karena adanya perkembangan yang sangat cepat dalam bidang ilmu dan teknologi, tetapi juga karena perkembangan teknologi yang sangat cepat, terutama dalam bidang elektronika, memungkinkan sejumlah besar informasi dan pengetahuan tersimpan, bisa diperoleh dan disebarkan secara cepat dan hampir menjangkau seluruh planet bumi. Belajar mengetahui merupakan kegiatan untuk memperoleh, memperdalam dan memanfaatkan pengetahuan. Pengetahuan diperoleh dengan berbagai upaya perolehan pengetahuan, melalui membaca, mengakses internet, bertanya, mengikuti kuliah, dll. Pengetahuan dikuasai melalui hafalan, tanya-jawab, diskusi, latihan pemecahan masalah, penerapan, dll. Pengetahuan dimanfaatkan untuk mencapai berbagai tujuan: memperluas wawasan, meningkatakan kemampuan, memecahkan masalah, belajar lebih lanjut, dll.
Jacques Delors (1996), sebagai ketua komisi penyusun Learning the Treasure Within, menegaskan adanya dua manfaat pengetahuan, yaitu pengetahuan sebagai alat (mean) dan pengetahuan sebagai hasil (end). Sebagai alat, pengetahuan digunakan untuk pencapaian berbagai tujuan, seperti: memahami lingkungan, hidup layak sesuai kondisi lingkungan, pengembangan keterampilan bekerja, berkomunikasi. Sebagai hasil, pengetahuan mereka dasar bagi kepuasaan memahami, mengetahui dan menemukan.
Pengetahuan terus berkembang, setiap saat ditemukan pengetahuan baru. Oleh karena itu belajar mengetahui harus terus dilakukan, bahkan ditingkatkan menjadi knowing much (berusaha tahu banyak).

2. Belajar berkarya (learning to do)
Agar mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dalam masyarakat yang berkembang sangat cepat, maka individu perlu belajar berkarya. Belajar berkarya berhubungan erat dengan belajar mengetahui, sebab pengetahuan mendasari perbuatan. Dalam konsep komisi Unesco, belajar berkarya ini mempunyai makna khusus, yaitu dalam kaitan dengan vokasional. Belajar berkarya adalah balajar atau berlatih menguasai keterampilan dan kompetensi kerja. Sejalan dengan tuntutan perkembangan industri dan perusahaan, maka keterampilan dan kompetisi kerja ini, juga berkembang semakin tinggi, tidak hanya pada tingkat keterampilan, kompetensi teknis atau operasional, tetapi sampai dengan kompetensi profesional. Karena tuntutan pekerjaan didunia industri dan perusahaan terus meningkat, maka individu yang akan memasuki dan/atau telah masuk di dunia industri dan perusahaan perlu terus bekarya. Mereka harus mampu doing much (berusaha berkarya banyak).

3. Belajar hidup bersama (learning to live together)
Dalam kehidupan global, kita tidak hanya berinteraksi dengan beraneka kelompok etnik, daerah, budaya, ras, agama, kepakaran, dan profesi, tetapi hidup bersama dan bekerja sama dengan aneka kelompok tersebut. Agar mampu berinteraksi, berkomonikasi, bekerja sama dan hidup bersama antar kelompok dituntut belajar hidup bersama. Tiap kelompok memiliki latar belakang pendidikan, kebudayaan, tradisi, dan tahap perkembangan yang berbeda, agar bisa bekerjasama dan hidup rukun, mereka harus banyak belajar hidup bersama, being sociable (berusaha membina kehidupan bersama)

4. Belajar berkembang utuh (learning to be)
Tantangan kehidupan yang berkembang cepat dan sangat kompleks, menuntut pengembangan manusia secara utuh. Manusia yang seluruh aspek kepribadiannya berkembang secara optimal dan seimbang, baik aspek intelektual, emosi, sosial, fisik, maupun moral. Untuk mencapai sasaran demikian individu dituntut banyak belajar mengembangkan seluruh aspek kepribadiannya. Sebenarnya tuntutan perkembangan kehidupan global, bukan hanya menuntut berkembangnya manusia secara menyeluruh dan utuh, tetapi juga manusia utuh yang unggul. Untuk itu mereka harus berusaha banyak mencapai keunggulan (being excellence). Keunggulan diperkuat dengan moral yang kuat. Individu-individu global harus berupaya bermoral kuat atau being morally.

PEDOMAN MEMBUAT KARYA TULIS BAGI SISWA DAN KELOMPOK ILMIAH REMAJA Oleh Drs. FADRIZAL ALAMS

... A. PENDAHULUAN

Karya tulis pada hakikatnya merupakan organisasi ide atau pesan secara tertulis. Jika kata itu dikaitkan dengan kata ilmiah, maka hasil organisasi ide atau pesan itu disebut tulisan ilmiah. Tulisan ilmiah adalah tulisan yang didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, atau penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bahasa dan isinya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Pada umumnya karya tulis yang dibuat oleh siswa berdasarkan hasil pengamatan, peninjauan di lapangan termasuk kedalam kategori hasil berpikir induktif. Dalam berpikir induktif, kesimpulan ditarik atas dasar data empiris setelah sebelumnya dilakukan verifikasi data.

Karya tulis yang dibuat atas dasar berpikir induktif, salah satunya dapat dilakukan melalui pendeskripsian gejala atau peristiwa berdasarkan pengamatan dan peninjauan lapangan. Misalnya, siswa datang ke sebuah perusahaan untuk meninjau, mengamati proses produksi atau sistem organisasinya, kemudian hasil-hasilnya dilaporkan/ ditulis. Apa yang ditulis oleh siswa adalah fakta, gejala atau kejadian di lapangan, kemudian diberi komentar dan pembahasan berdasarkan teori-teori yang berkenaan dengan produksi atau sistem organisasi. Hal ini dilakukan dengan cara membandingkan apa yang diamati di lapangan dengan apa yang seharusnya menurut teori sehingga siswa dapat menarik kesimpulan, setidaknya menilai bagaimana kondisi perusahaan itu dalam hal produksi atau sistem organisasinya.

Dengan demikian, karya tulis yang dibuat oleh siswa atas dasar berpikir induktif diawali dengan pengamatan empiris dan hasilnya dibandingkan dengan teori-teori yang relevan dengan masalah, kemudian disimpulkan. Karya tulis seperti ini hanya memaparkan hasil pengamatan, dan tidak dituntut mengajukan dan menguji hipotesis. Sebab, yang diutamakan adalah memaparkan atau mendeskripsikan apa yang terjadi di lapangan, namun isi laporan harus sistematis.

B. LANGKAH-LANGKAH PENULISAN

Penyusunan karya tulis berdasarkan hasil berpikir induktif biasanya menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menetapkan tema pokok dan pertanyaan-pertanyaan yang ingin dicari jawabannya;
2 Mengadakan verifikasi data, gejala proses di lapangan. Artinya siswa turun ke lapangan untuk mempelajari data, gejala, atau berlangsungnya suatu proses misalnya proses produksi atau sistem organisasi suatu perusahaan. Cara yang dilakukan bisa melalui pengamatan, wawancara/ interviu, studi dokumentasi dan sebagainya, kemudian hasilnya dicatat sebagaimana adanya;
3. Menganalisis data, setidaknya mempelajari hasil pengamatan tersebut dan menghubungkannya dengan landasan teori yang berkenaan dengan tema atau masalah yang diamati. Kaitkan hasil pengamatan dengan rumusan masalah atau pertanyaan-pertanyaan yang telah ditetapkan pada langkah pertama;
4. Membuat outline isi karya tulis (lihat sistematika penulisan);
5. Menyusun atau menulis karya tulis tersebut dengan bahan yang telah diperoleh dari pengamatan di lapangan dan bahan-bahan teoritis sebagai pembanding. Dalam menyusun atau menulis bahan tersebut, perhatikan beberapa petunjuk yang terdapat pada uraian isi dan sistematika.

C. TEKNIK PENULISAN

1. Ketentuan Umum
a.Bahasa Penulisan dilaksanakan dalam bahasa Indonesia dan berpedoman pada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud, 1996 dan 1997)
b. Ukuran dan macam kertas
1) Jenis kertas yang dipakai adalah HVS A4 (21 x 29,7 cm);
2) Warna kertas putih;
c. Pengetikan
1) Hanya pita dan tinta hitam yang diperkenankan untuk dipakai;
2) Semua materi dalam tulisan harus ditik;
3) Simbol dan huruf-huruf khusus yang tidak terdapat pada mesin tik/ komputer dapat digambarkan dengan tangan dan menggunakan tinta cina;
4) Pencoretan dan penghitaman bagian yang salah tidak diperkenankan;
5) Penggandaan dapat dilakukan dengan karbon copi atau foto copi dengan kertas dan tinta yang berkualitas tinggi, sheet stensil atau dicetak.
d. Margin
1) Batas bawah, atas dan samping kanan berjarak 3 cm dari pinggir kertas; samping kiri 4 cm dari pinggir kertas; samping kanan tidak harus ditik rata mengikuti batas margin;
2) Semua tabel dan gambar harus berada dalam margin;
3) Sub judul pada halaman bagian bawah harus diikuti dengan dua baris penuh dibawahnya. Jika tempat tidak memungkinkan, sub judul harus dimulai pada halaman berikutnya;
4) Kata terakhir pada suatu halaman tidak boleh dipisahkan ke halaman berikutnya, tetapi seluruh kata harus ditik pada halaman berikutnya;
5) Alinea baru dapat dimulai dengan indentasi atau perbedaan spasi.
e. Spasi
1) Spasi ganda harus dipakai untuk keseluruhan secara umum;
2) Spasi tunggal untuk tabel, kutipan yang lebih dari lima baris, dan untuk setiap nomor bibliografi (pustaka).
f. Penomoran halaman
1) Nomor halaman ditik tanpa tanda petik ataupun garis kecil dan ditempatkan disamping kanan, 1,5 spasi di atas batas margin atau 3cm dari pinggir kanan kertas;
3) Pada halaman yang memuat judul utama (Bab), nomor halaman boleh tidak dicantumkan tetapi dihitung atau ditik 1,5 spasi di bawah batas margin bawah sejarak 3 cm dari pinggir kanan kertas;
4) Semua halaman dinomori, kecuali halaman pertama yang kosong. Halaman judul, halaman muka dan halaman pertama suatu bab, halaman pada tubuh laporan, daftar pustaka dan lampiran diberi nomor Arab, dimulai dengan 1;
g. Tabel dan gambar
1) Kata tabel menyatakan data yang sudah ditabulasikan dan digunakan dalam karya tulis, baik dalam tubuh tulisan maupun dalam lampiran;
2) Kata gambar menunjukkan semua materi non verbal yang digunakan dalam tubuh tulisan dan lampiran seperti peta, grafik, foto, gambar, diagram dll.;
3) Untuk membuat tabel dan gambar digunakan mesin tik/komputer dan tinta cina, dapat digunakan untuk judul, nomor, dan tanda-tanda;
4) Tabel dan gambar hendaknya menggunakan kertas yang sama dengan seluruh tulisan;
5) Tabel dan gambar harus berada dalam margin yang sudah ditetapkan;
6) Tabel dan gambar yang ukurannya kurang atau sama dengan setengah halaman dapat diletakkan diantara uraian laporan; dipisahkan dari kalimat sebelah atas dan bawah dengan satu tripel spasi. Bila tebal atau gambar lebih besar dari setengah halaman harus diletakkan pada halaman tersendiri;
7) Dua atau tiga tabel, gambar yang kecil dapat diletakkan pada satu halaman dengan pemisahan sesuai aturan;
8) Tabel atau gambar yang lebar dapat ditik atau diletakkan pada sejajar panjang. Judul tabel harus ditik sesuai dengan batas penjilidan;
9) Tabel atau gambar harus diletakkan sedekat mungkin dengan uraian
dalam tulisan;
10) Nomor dan judul tabel harus diletakkan dua spasi di bawah batas tabel;
1 l) Nomor dan judul gambar harus diletakkan dua spasi di bawah batas gambar bawah;
12) Posisi tabel, gambar sejajar lebar atau sejajar panjang tidak mempengaruhi cara penomoran halaman;
13) Tabel dan gambar dinomori dengan seri yang berbeda. Setiap seri diberi nomor unit dengan angka Arab;
14) Bila suatu tabel harus diteruskan ke halaman lain, dibatas atas ditik tabel 4 (lanjutan);
15) Judul tabel/gambar harus ditik mulai dari batas kiri;
16) Judul tabel tidak terpisah dengan tubuh tabel;

2. Sistematika Penulisan

Pada umumnya dalam sebuah organisasi penyajian karya tulis terdiri dari tiga bagian utama, yakni bagian permulaan, bagian tubuh, dan bagian penutup.

BAGIAN PERMULAAN, terdiri dari:
• Kulit Laporan (Teladan 1)
• Halaman persetujuan (Teladan 2)
• Halaman pengesahan (Teladan 3)
• Halaman motto (Jika ada)
• Kata Pengantar
• Datar Isi
• Daftar Tabel (Jika ada)
• Daftar Gambar (Jika ada)
• Daftar Lampiran (Jika ada)
• Intisari Laporan

BAGIAN TUBUH ATAU ISI, terdiri dari beberapa bab dan setiap bab terdiri dari beberapa butir pembahasan:
BAB I PENDAHULUAN, berisi:
A. Latar Belakang
B. Permasalahan
C. Tujuan dan Kegunaan
D. Metodologi
E. Sistematika Pembahasan

BAB II HASIL DAN PEMBAHASAN, berisi:
A. Deskripsi Teori
B. Hasil Pengamatan
C. Pembahasan

BAB III SIMPULAN DAN SARAN, berisi:
A Simpulan
B. Saran

BAGIAN PENUTUP, terdiri dari:
A. DaftarPustaka
B. Lampiran-Lampiran

KETERANGAN:

Latar Belakang:
Dalam bagian ini dikemukakan fenomena, keadaan, informasi atau peristiwa yang melatar belakangi masalah. Jadi, isi latar belakang masalah antara lain:
• Menguraikan konsep atau keadaan yang seharusnya
• Menguraikan kenyataan yang terjadi
• Menguraikan solusi dan alasan pentingnya.

Permasalahan:
Dalam bagian ini penulis memaparkan terlebih dahulu masalah pokok yang akan dibahas. Dari masalah pokok kemudian dirumuskan beberapa masalah yang lebih operasional dalam bentuk sub-sub masalah. Nyatakan permasalahan tersebut dalam kalimat pertanyaan yang jelas, spesifik dan logis;

Tujuan dan Kegunaan:
Pada bagian ini penulis dapat menyajikan perumusan tujuan secara umum dan khusus. Tujuan umum mengacu pada masalah pokok, sedangkan tujuan khusus mengacu pada sub-sub masalah. Tujuan dirumuskan dalam bentuk kalimat pernyataan mengenai makna yang terkandung dalam permasalahan. Setelah itu berikan penjelasan manfaatnya, yaitu menjelaskan nilai guna hasil-hasil yang diperoleh dari pembahasan permasalahan tersebut, baik secara teoritis maupun praktis;

Metodologi:
Dalam bagian ini dikemukakan tempat dan waktu penelitian; subyek penelitian, yaitu orang atau benda yang akan dijadikan sample dan sasaran penelitian; data dan sumber data; alat dan bahan penelitian; cara pengumpulan data (wawancara, observasi, dokumentasi, dll) Selanjutnya kemukakan pula cara penyajian dan cara analisis data yang digunakan, misalnya analitik kualitatif deskriptif, analitik kuantitatif deskriptif, dan sebagainya.

Sistematika Pembahasan:
Pada bagian ini penulis memberikan gambaran secara sistematis dan logis tentang pokok bahasan yang akan disajikan dalam karya tulis.

Deskripsi Teori:
Di sini penulis memaparkan atau menjelaskan konsep atau teori yang berkaitan dengan permasalahan

Hasil dan Pembahasan:
Pada bagian ini penulis menyajikan hasil pengamatan empiris atau pengamatan lapangan sesuai dengan permasalahan yang sudah ditetapkan. Kemudian, hasil pengamatan empiris tersebut dibahas atau dianalisis. Pembahasannya bisa dilakukan melalui tinjauan teoritis sebagai bahan perbandingan untuk memperjelas hasil pengamatan.

Simpulan:
Isinya adalah menyimpulkan hasil pembahasan dalam hubungannya dengan permasalahan atas dasar hasil pengamatan tadi, dan menilainya dari sudut teoritis keilmuan yang relevan dengan tema atau judul. Apabila simpulan lebih dari satu halaman, maka penulisannya menggunakan point-point, namun jika hanya satu halaman atau kurang, penulisannya menggunakan alinea. Penulisan diawali dengan simpulan secara umum, kemudian yang lebih khusus.

Saran-saran:
Penulis mengajukan pendapatnya tentang hasil pengamatannya di lapangan atau menilai kelemahan-kelemahan gejala, peristiwa atau proses yang terjadi di lapangan beserta upaya memperbaikinya.

3. Pengorganisasian Tulisan

Karya tulis biasanya disusun berdasarkan suatu tata urutan yang baik. Tata urutan yang baik inilah yang dinamakan organisasi tulisan. Ini dimaksudkan untuk memudahkan pembaca dalam memahami apa yang ditulis. Dalam penulisan ilmiah dikenal dua bentuk organisasi tulisan, yaitu bentuk angka huruf dan bentuk kesatuan desimal.

a. Bentuk Angka Huruf
Pada bentuk angka huruf, judul bab bernomor angka Romawi, sedangkan sub bab berhuruf kapital. Bagian lebih kecil lagi (sub-sub bab) berangka Arab, perincian lebih kecil lagi diberi tanda huruf kecil. Jika bagian itu masih memiliki bagian yang lebih penting lagi, maka digunakan angka berkurung tutup dan selanjutnya huruf kecil berkurung tutup. Demikian seterusnya.
Contoh:
BAB I ....................................................................................
A. ...............................................................................
1 ...........................................................................
2. .........................................................................
a. ...................................................................
b. ...................................................................
1) ................................................................
2) ................................................................
a) ...........................................................
b) ...........................................................
(1) .....................................................
(2) .....................................................
(a) ................................................
(b) ................................................
B .................................................................................
1................ ............................................................
2. ...........................................................................
3. dan seterusnya

b. Bentuk Kesatuan Desimal
Pada bentuk kesatuan desimal ini semua perincian bab menggunakan angka Arab, kecuali pada judul bab menggunakan angka Romawi.

Contoh:
BAB I .....................................................................................................
2.1 ...............................................................................................
2.1.1 ....................................................................................
2.1.1.1 ........................................................................
2.1.1.2 ........................................................................
dan seterusnya
2.2 ................................................................................................
2.2.1 .....................................................................................
2.2.1.1 .......................................................................
2.2.1.2. ........................................................................
dan seterusnya

Dari kedua cara tersebut di atas, salah satu cara yang sebaiknya dipakai adalah cara pertama, yaitu bentuk angka huruf, karena dengan tanpa mengurangi kerapian dan estetika penulisan, cara ini lebih ekonomis dalam arti dapat mendayagunakan setiap halaman karya tulis secara efisien.
4. Cara Membuat Kutipan

Kutipan adalah ambil alihan konsep atau pendapat orang lain sebagaimana tertulis dalam karya tulisnya kata demi kata. Kutipan, disamping dimaksudkan sebagai penguat atau pendukung bahasan, juga dapat berfungsi sebagai upaya penekanan arti penting dari apa yang dikemukakan oleh penulis yang mengutip itu.

Berikut ini adalah beberapa petunjuk cara melakukan kutipan, yaitu:
a. Kutipan yang kalimatnya kurang dari lima baris, penulisannya langsung dalam barisan kalimat, tetapi dengan menggunakan tanda petik ganda ("..."). Hal ini untuk membedakan kalimat penulis dengan kalimat kutipan.
Perhatikan contoh kutipan berikut ini:
Keterampilan menulis sangat berhubungan dengan kehidupan seseorang di masyarakat. Karena eratnya hubungan peran penulis dengan kehidupan di masyarakat ini, I Gusti N. Oka (1976:53) mengatakan bahwa "masyarakat Indonesia yang akan datang sangat memerlukan tenaga kerja untuk Pembangunan yang terampil menggunakan bahasa Indonesia untuk surat menyurat, berpidato, dan karang-mengarang".

b. Kutipan yang panjangnya sama dengan atau lebih dari lima baris, penulisannya adalah sebagai berikut:
1) Kutipan ditulis atau ditik terpisah dari kalimat kita sendiri;
2) Kutipan ditik pada baris baru dengan jarak empat pukulan tik kosong dari sisi margin;
3) Kutipan ditik rapat (spasi tunggal);
4) Kutipan tidak usah menggunakan tanda petik ganda pada awal dan akhir kalimat;
5) Bila dalam kutipan panjang itu terdapat bagian yang diberi tanda petik ganda, maka dalam tulisan kita tanda petik ganda itu diganti dengan tanda petik tunggal

Contoh:
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
.............................................( akhir baris tulisan kita )
...............................................................................................................................
...............................................................................................................................
...............................................................................................................................
...............................................................................................................................
...............................................................................................................................
............................................... (akhir kutipan )

....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
......................................................( kalimat kita sendiri )

c. Dalam mengutip jangan sampai melakukan perubahan, baik redaksi maupun
isi dari apa yang dikutip.

6. Cara Menyusun Daftar Pustaka

Daftar pustaka berisi semua sumber kepustakaan yang dipergunakan dalam penulisan sebuah karya tulis. Sumber kepustakaan itu dapat berupa buku, majalah, surat kabar, jurnal kertas kerja, ensiklopedi, dan bahan penerbitan lain sebagai referensi yang berkaitan dengan tulisan yang sedang dikerjakan.

Penulisan daftar pustaka hendaknya memenuhi kaidah atau aturan yang lazim dalam penulisan ilmiah. Penulisannya disusun secara alfabetis, dari A sampai Z dengan petikan huruf pertama dari nama keluarga penulisnya.

Secara keseluruhan penulisan daftar pustaka itu adalah sebagai berikut:
a.Nama pengarang dengan mencantumkan nama akhir (marga) dan tanpa menggunakan gelar atau derajat kesarjanaannya. Penulisan nama apabila lebih dari satu pola (kata) penulisannya harus dibalik dengan disertai penggunaan tanda koma dan diakhiri dengan tanda titik;.
b.Setelah nama pengarang tercantum, maka dituliskan tahun penerbitan buku tersebut dan diberi tanda titik.
c.Setelah penulisan tahun penerbitan, dicantumkan nama buku tersebut dengan disertai garis bawah atau dicetak miring, kemudian diberi tanda titik.
d.Setelah nama buku tercantum, maka dituliskan nama kota penerbitan buku atau majalah tersebut diterbitkan dan disertai dengan tanda titik dua (:).
e.Pada bagian akhir, setelah dicantumkan kota penerbitan dicantumkan penerbit mana yang menerbitkan buku atau majalah tersebut dan diakhiri dengan tanda titik.

Contoh:
Ali, Lukman. 2000. Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa
Diknas.

Depdikbud. 1996. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Soemanto, Wasty. 1994. Pedoman Teknik Penulisan Skripsi. Jakarta: Bumi Aksara.

Sujiman, Panuti dan Dendy S. 2000. Petunjuk Penulisan Karya Ilmiah. Jakarta: Pengajar Bahasa Indonesia.


D. DAFTAR BACAAN


Ali, Lukman. 2000. Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa Diknas.

Ariyani. Farida (Dosen Tetap FK1P Unila). 2003. Ragam Tulis Karya Ilmiah. Makalah Disampaikan pada Pelatihan Karya Ilmiah Bagi Guru-guru Anggota PGR1 Kabupaten Tanggamus, 19 April 2003, di Pringsewu.

Arikunto, Suharsimi, 1989. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Bina Aksara.

Depdikbud, 1996. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Depdikbud. 1997. Pedoman Umum Pembentukan Istilah Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan bahasa.

Ekosusilo, Madyo. dan Bambang Triyanto. 1991. Pedoman Penulisan Karya Tulis Semarang: Dahara Prize.

Ghazali, M .Bahri. 1991. Konsep Ilmu Menurut Al-Ghazali, Suatu Tinjauan Psikologik Pedagogik. Yogyakarta: CV. Pedoman Ilmu Jaya.

Hadi, Sutrisno. 1988. Metodologi Research. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fak. Psikologi UGM.

Nasution, S dan RH. Thomas. 1980. Buku Penuntun Membuat Disertasi, Thesis, Skripsi, Report, Paper. Bandung: PT. Jemmars.

Satrohoetomo. Ali. 1975. Karangan Ilmiah, Suatu Penuntun Menulis Laporan dan Skripsi . Jakarta: .Pradnya Paramita.

Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi. 1985. Metode Penelitian Survey. Jakarta: LP3ES.

Soemanto, Wasty, 1994. Pedoman Teknis Penulisan Skripsi (Karya Ilmiah). Jakarta: Bumi Aksara.

Sudjana, Nana. 1988. Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah. Bandung: Smar Baru.

Sudjiman, Panuti dan Dendy S. 2000. Petunjuk Penulisan Karya Ilmiah. Jakarta: Pengajar Bahasa Indonesia.

Soetjipto (Pengawas Dinas Pendidikan Tingkat I). 2006. Teknik Penulisan Artikel Ilmiah. Makalah Disampaikan pada Workshop Guru Pembina LPIR SMA se-Propinsi Lampung, tanggal 16 s.d 20 Desember 2006, di Bandar Lampung.

Tambunan, Martahan. 1992. Pengenalan Penulisan Laporan Penelitian, Makalah disampaikan pada pertemuan dan diskusi ilmiah bagi pembina dan pengurus KIR se Propinsi Lampung. Bandar Lampung, 13 Nopember 1992.

Universitas Lampung. 1985. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Universitas Lampung. Bandar Lampung: Unila Press.

Universitas Lampung. 2005. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Universitas Lampung. Bandar Lampung: Unila Press.